Minggu, 21 Mei 2017

MENOLAK atau MENERIMA Teknologi Baru


MENERIMA atau MENOLAK

Teknologi Baru
By Mardiana





            Perkembangan  teknologi saat ini telah menunjukkan kemajuan yang sangat luar biasa. Bahkan bisa merambat ke daerah-daerah terpencil yang dulunya sama sekali tidak terjamah oleh teknologi. Jika berbicara tentang tekonologi, tak dapat dipungkiri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan, teknologi sangat berpengaruh pada kehidupan manusia dari segala aspek dan dimensi, dari yang sederhana hingga yang sulit. Begitupun yang dirasakan oleh suatu organisasi. Penggunaan teknologi yang canggih dan sesuai kebutuhanpun menjadi perhatian yang cukup besar agar tujuan organisasi tersebut bisa tercapai.


Dalam hal ini, pengguna teknologi memainkan peranan penting dalam membuat keputusan, apakah teknologi baru akan diterapkan atau sebaliknya.


Menanggapi hal tersebut, menyebabkan munculnya berbagai teori, seperti Technology Acceptance Model (Fred Davis, 1989) yang digunakan untuk mengetahui reaksi pengguna terhadap sistem informasi, Theory of Reasoned Action (Fishbein dan Ajzen, 1975) menjelaskan terkait niat seseorang yang dipengaruhi oleh dua faktor utama, attitude toward the behavior dan subjective norms, Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1988) yang merupakan perluasan dari TRA dengan tambahan faktor perceived behavioral control  dan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (Venkatesh, 2003), teori baru yang menggabungkan teori-teori sebelumnya, mencakup empat faktor utama (ekpektasi kinerja, ekpektasi usaha, pengaruh sosial dan kondisi pendukung)


Dari berbagai teori yang ada akan memudahkan suatu organisasi untuk mengetahui dampak dari penggunaan suatu teknologi baru.


Mardiana mahasiswi STEI SEBI menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari jurnal Sistem Informasi Akuntansi tentang resistensi pengguna dengan fokus penelitian adalah perspektif pengguna dalam kondisi saat ini (status quo), nilai persepsi sangat berpengaruh positif signifikan terhadap resistensi pengguna, mengalahkan keyakinan untuk berubah dari diri pengguna.


 “Perubahan merupakan fenomena yang harus dihadapi, namun tidak semua orang yang dapat menerima kenyataan dari perbuahan tersebut, karena  pada hakekatnya perubahan berarti  upaya pergeseran dari kondisi lama yang sudah dianggap nyaman  ke kondisi yang baru. Perubahan ini akan mengandung resiko, sehingga cenderung menimbulkan resistensi”. (MARDIANA/STEI SEBI)

pentingkah komite audit ?





Seberapa Penting Dewan Komite Audit ?
Oleh : Refita darmi (Mahasiswi STEI SEBI)


Dalam suatu organisasi atau lembaga perusahaan, terdapat dewan komite audit, yang terdiri dari ketua dan anggota, pada umumnya dewan komite audit ini terdiri dari 3 orang atau lebih.
komite audit merupakan tempat atau wadah dimana direksi membahas terkait laporan keuangan perusahaan untuk mengidentifikasi dan melakukan tindakan korektif. komite audit bersifat independen dan tidak memiliki koneksi keuangan dengan perseroan selain dari remunerasi yang diterima karena melaksanakan tugas sebagai dewan komite audit dan dewan komisaris.
komite audit independen mungkin tidak juga efektif jika komite audit tidak aktif, menurut Krishnan (2005, p.668)  menunjukkan bahwa “ jumlah pertemuan komite audit mungkin mencerminkan bagaimana proaktif komite audit dalam menilai pengendalian internal”. Pertemuan komite audit ini adalah untuk membahas terkait kesalahan-kesalahan pada laporan keuangan dan untuk peningkatan kualitas internal control yang ada di perusahaan. Komite audit yang aktif minimal melakukan pertemuan adalah sebanyak empat kali dalam setahun.
Komite audit yang aktif juga dapat memberi peran terhadap peningkatan keandalan laporan keuangan dapat mengurangi kesalahan dan penyimpangan, selama pertemuan komite audit dapat masalah yang dihadapi dalam proses pelaporan keuangan akan dapat dengan mudah terdeteksi, dalam melakukan tugas-tugas komite audit mempunyai akses penuh terhadap laporan keuangan, temuan audit internal, catatan notulensi rapat direksi, bahkan komite audit melakukan diskusi intensif dengan manajemen jika diperlukan, selain dengan auditor internal dan eksternal. Namun sebaliknya, jika pertemuan komite audit pasif, masalah yang terjadi tidak dapat terselesaikan dengan segera, sehingga dapat menurunkan tingkat keandalan dalam penyajian laporan keuangan.
Selain itu peran komite audit adalah untuk meningkatkan aktivitas kinerja perusahaan yang mana peran komite audit adalah untuk mengontrol pengendalian internal perusahaan, komiter audit juga meninjau terhadap penyalahgunaan wewenang atau penipuan yang terjadi di perusahaan, dalam hal ini komite audit lebih banyak bekerjasama dengan internal audit yang ada di perusahaan. Peran lainnya dari komite audit adalah meninjau terhadap kegiatan pengelolaan resiko perusahaan,komite audit lebih bekerjasama dengan bagian manajemen.
Dalam melakukan peninjauan, selain untuk mencermati laporan keuangan, laporan pemeriksaan audit internal, komite audit juga melakukan pengamatan atas prosedur dan kebijakan akuntansi, pengujian efektifitas terhadap pengawasan di Manajemen perusahaan.