MENERIMA atau MENOLAK
Teknologi Baru
By Mardiana
Perkembangan teknologi saat ini telah menunjukkan kemajuan
yang sangat luar biasa. Bahkan bisa merambat ke daerah-daerah terpencil yang
dulunya sama sekali tidak terjamah oleh teknologi. Jika berbicara tentang
tekonologi, tak dapat dipungkiri sangat erat kaitannya dengan kehidupan
manusia. Hal ini dikarenakan, teknologi sangat berpengaruh pada kehidupan
manusia dari segala aspek dan dimensi, dari yang sederhana hingga yang sulit.
Begitupun yang dirasakan oleh suatu organisasi. Penggunaan teknologi yang
canggih dan sesuai kebutuhanpun menjadi perhatian yang cukup besar agar tujuan
organisasi tersebut bisa tercapai.
Dalam hal ini,
pengguna teknologi memainkan peranan penting dalam membuat keputusan, apakah
teknologi baru akan diterapkan atau sebaliknya.
Menanggapi hal
tersebut, menyebabkan munculnya berbagai teori, seperti Technology Acceptance Model (Fred Davis, 1989) yang digunakan untuk
mengetahui reaksi pengguna terhadap sistem informasi, Theory of Reasoned Action (Fishbein dan Ajzen, 1975) menjelaskan terkait niat seseorang yang dipengaruhi
oleh dua faktor utama, attitude toward
the behavior dan subjective norms,
Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1988)
yang merupakan perluasan dari TRA dengan tambahan faktor perceived behavioral control dan Unified
Theory of Acceptance and Use of Technology (Venkatesh, 2003), teori baru
yang menggabungkan teori-teori sebelumnya, mencakup empat faktor utama
(ekpektasi kinerja, ekpektasi usaha, pengaruh sosial dan kondisi pendukung)
Dari berbagai teori
yang ada akan memudahkan suatu organisasi untuk mengetahui dampak dari
penggunaan suatu teknologi baru.
Mardiana mahasiswi
STEI SEBI menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari jurnal
Sistem Informasi Akuntansi tentang resistensi pengguna dengan fokus penelitian
adalah perspektif pengguna dalam kondisi saat ini (status quo), nilai persepsi sangat berpengaruh positif signifikan
terhadap resistensi pengguna, mengalahkan keyakinan untuk berubah dari diri pengguna.
“Perubahan merupakan fenomena yang harus
dihadapi, namun tidak semua orang yang dapat menerima kenyataan dari perbuahan
tersebut, karena pada hakekatnya
perubahan berarti upaya pergeseran dari
kondisi lama yang sudah dianggap nyaman ke
kondisi yang baru. Perubahan ini akan mengandung resiko, sehingga cenderung menimbulkan
resistensi”. (MARDIANA/STEI SEBI)
